Jakarta (Lampost.co) -- Isu mobil hybrid dan listrik
sudah berhembus kencang di Indonesia. Pabrikan pun menyambut baik hal
ini, tentunya agar kondisi jalanan lebih sehat dan minim polusi.
Apalagi Indonesia jadi salah satu dari sedikit negara yang masih
menerapkan standar Euro2, ini jelas sudah sangat jauh tertinggal. Namun
memasarkan mobil jenis ini punya kendala tersendiri, seperti biaya pajak
yang tinggi.
"Luxury tax dan impor tax bisa melambungkan harga mobil 40 persen
lebih mahal, itulah kenapa mobil ini tak bisa murah," kata Executive GM
PT Toyota Astra Motor (TAM), Suryo Pranoto.
Kemudian perlu waktu melakukan edukasi terhadap konsumen, setidaknya
perlu waktu tiga tahun. "Contoh seperti transmisi otomatis pertama tidak
gampang, karena banyak yang bertanya perawatan. Hybrid pun sama,
edukasi tidak mudah apalagi harga jual tinggi," paparnya beberapa waktu
lalu.
Selain mobil hybrid, maka mobil listrik juga punya kendala tersendiri.
Kalau power plant kurang, tentu akan sulit berkembang mobil listrik di
Indonesia. "Lalu source power plant ini apa? Kalau batu bara juga
berarti cuma pindah emisi dari jalanan ke area sekitar power plant,"
ujarnya.
Saat ini Toyota memiliki 33 lini produk yang sudah berteknologi hybrid.
Untuk mobil listrik, mereka sudah pamerkan mobil listriknya dalam ajang
Consumer Electric Show, dengan menghadirkan demo car bernama Yui.
Home »
indonesia
,
News
,
Otomotif
,
update berita
» Ini Alasan Mobil Hybrid dan Listrik Sulit Berkembang di Indonesia
Ini Alasan Mobil Hybrid dan Listrik Sulit Berkembang di Indonesia
